Pagi Mengenang 478 Tahun Kedatangan Portugis di Manakarra

0
130 views
Pagi Mengenang 478 Tahun Kedatangan Portugis di Manakarra
Pagi Mengenang 478 Tahun Kedatangan Portugis di Manakarra

Pagi Mengenang 478 Tahun Kedatangan Portugis di Manakarra

Berita Terkini -Selamat Pagi Indonesia. Selamat Pagi Dunia. Selamat Pagi Peradaban. Salam pagi nan eksotis terucap dari Pantai Manakarra. Di pantai ini ada cerita mengenai sejarah Mamuju.

Anjungan pantai Manakarra di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat menjadi pusat kemeriahan menyambut hari jadi ke-478 Kabupaten Mamuju pada Sabtu, 14 Juli 2018. Jika berkunjung pagi hari, semilir angin di anjungan pantai Manakarra begitu terasa menyambut datangnya matahari. Tak ada hiruk pikuk keramaian seperti beragam aksi panggung hiburan hiburan seni budaya lokal.

Saat ulang tahun, kelompok musik Samson ikut meramaikan Manakarra Fair 2018 yang berlangsung 13 hingga 15 Juli 2018.

Menurut salah satu warga, Abdi Latief di suatu pagi, Mamuju memiliki sebutan khas ‘Manakarra’. Artinya pusaka yang sakti. Setidaknya itu dibuktikan tahun 1540 saat terbentuknya kerajaan Mamuju dari hasil menyatunya tiga buah kerajaan di Rante Lisuang Ada’ Kurungan Bassi, yakni Kurri-Kurri, Langgamonar, dan Managgallangoleh Pue Tunileo.

3mpoker

“Fakta yang tercatat dalam sejarah, pelabuhan Kurri-Kurri adalah pelabuhan internasional. Menjadi persinggahan Portugis membawa berbagai komoditas dengan rute Kerajaan Siang di Pangkaje’ne sebelum Gowa dan Manado Tua (Sulawesi Utara),” kata Abdi Latief kepada Liputan6.com.

Dijelaskan pula, warga di Kabupaten Mamuju memandang angka tujuh sebagai angka sakral. Berbagai landmark selalu berkait dengan angka tujuh.

Mulai dari Gala’gar Pitu (7 Pemangku Adat), Pitu Ba’bana Binanga (7 Kerajaan di pesisir), Pitu Ulunna Salu’ (7 Kerajaan di Hulu Sungai), Penduang Pitu (14 sebagai kelipatan 2 dari 7), Nene Pitullapis (Nenek tujuh turunan), Ampo Pitullapis (Cucu tujuh turunan), Langi’ Pitussusung (Langit tujuh susun), Tanpo Pitullapis (Tanah tujuh lapis), Tanete Pituttodong (Gunung tujuh bersusun).

Itulah barisan serba tujuh, tradisi yang hidup, terjaga dan terawat di Mamuju. Tradisi yang menjaga pagi tetap bersemangat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here